home

Tuesday, September 17, 2013

Kena Encok? Sebaiknya Hindari Minuman Manis

Info sehat -  WELLINGTON--- Penderita encok mungkin segera disarankan agar mencoret minuman manis ke dalam daftar makanan karena  mengakibatkan penderitaan yang menyakitkan dan melumpuhkan. Begitu bunyi hasil satu studi Selandia Baru yang disiarkan pada Kamis (12/9).

Daging merah, makanan laut dan bir sudah diketahui memicu tingginya asam urat --yang mengakibatkan sakit rematik. Ternyata bukan cuma makanan tadi, para ilmuwan di University of Otago dan University of Auckland juga telah menemukan varian gen manusia yang dapat "berubah jahat" ketika dipengaruhi oleh minuman manis.


Studi itu memperlihatkan ketika varian gen SLC2A9 berprilaku benar, gen tersebut membantu mengangkut asam urat ke luar aliran darah dan memfasilitasi pembuangannya melalui ginjal.

"Namun ketika varian gen ini mengkonsumsi minuman manis, gen ini membawa ciri khas Jekyll and Hyde; fungsi nyata varian gen tersebut berubah, yaitu asam urat malah diangkut kembali ke dalam aliran darah dan resiko encok meningkat," kata Asisten Profesor Tony Merriman, dari Departement of Biochemistry di University of Otago, di dalam satu pernyataan.

"Jadi gula tak sekadar meningkatkan asam urat di dalam darah akibat pemrosesan di liver, melainkan  juga tampaknya secara langsung ikut campur dalam pembuangan asam urat dari ginjal. Ini adalah interaksi yang sangat tak bisa diramalkan," ia mengatatakan, sebagaimana dilaporkan Xinhua.

"Setiap 300 militer porsi minuman dengan pemanis gula setiap hari meningkatkan peluang encok sampai 13 persen," katanya. Hasil dari penelitian tersebut, ia menyarankan selain mengkonsumsi obat lewat resep, penderita encok mesti menghindari minuman manis.

Encok disebabkan ketika asam urat di dalam darah mengkristal di persendian, sehingga terjadilah radang. Itu adalah bentuk rematik paling umum di Selandia Baru, terutama di kalangan pria, dan memiliki hubungan kuat dengan penyakit lain metabolis seperti sakit ginjal, jantung dan diabetes.

Redaktur : Ajeng Ritzki Pitakasari   
Sumber : Antara

No comments:

Post a Comment