Info sehat - Jakarta, Orang yang uring-uringan biasanya tidak disukai orang lain. Banyak pula yang meyakini sifat ini tidak baik untuk kesehatan. Namun sebuah penelitian menyebut orang dengan sifat semacam itu merasa sangat berbahagia di usia paruh baya dan lebih panjang umur ketimbang orang yang ceria.
Demikian penelitian yang dilaporkan para ilmuwan Inggris awal bulan ini, seperti dikutip dari news.com.au, Selasa (23/10/2012). Penelitian tersebut dilakukan oleh Longitudinal Study of Ageing yang melibatkan lebih dari 10 ribu orang.
Para peneliti memperkirakan orang-orang yang ceria lebih panjang umur ketimbang orang yang tidak bahagia. Namun untuk orang yang suka uring-uringan, kemungkinan tidak seburuk itu. Justru jika memaksa diri sendiri untuk menjadi ceria bisa menyebabkan stres.
Menurut penelitian, optimisme tidak selalu menyehatkan seperti yang biasa didengar. Sebaliknya orang yang ceria dan optimis juga memiliki sisi gelap. Hal itu juga pernah disebut dalam penelitian yang dipublikasikan Buletin Personality and Social Psychology tahun 2002.
Psikolog yang melakukan penelitian terhadap kehidupan 1.216 anak-anak pada 1922 menemukan fakta bahwa orang-orang yang bahagia lebih berumur pendek ketimbang mereka yang tidak terlalu bahagia. Para peneliti di Universitas California menyebut banyak orang ceria yang kemudian mengonsumsi minuman keras dan merokok, sehingga inilah yang kemudian menyebabkan mereka berumur lebih pendek. Optimisme dan keceriaan yang malah dibarengi dengan pola hidup kurang sehatlah yang membahayakan kehidupan mereka.
Dalam kesimpulan laporan penelitian dicantumkan, "Meskipun optimisme memperlihatkan efek positif saat mereka menghadapi krisis jangka pendek, namun efek jangka panjang keceriaan lebih kompleks".
Uring-uringan tampaknya menjadi respons yang jauh lebih baik saat seseorang menghadapi masa-masa sulit. Saat seseorang sedang murung dan uring-uringan, dia diyakini lebih mampu mengatasi situasi yang sulit. Hal ini antara lain terlihat dalam penelitian tahun 2007 di Australia. Saat itu dilakukan serangkaian tes kecerdasan, di mana ditemukan fakta bahwa hasil tes orang yang moodnya sedang buruk ternyata mengungguli peserta yang ceria.
"Mereka membuat kesalahan yang lebih sedikit dan merupakan komunikator yang lebih baik," kata seorang peneliti memberikan pendapat orang yang mengerjakan tes dengan mood yang buruk.
"Berbeda dengan tipe orang yang bahagia, orang yang kurang bahagia lebih baik dalam mengambil keputusan dan tidak mudah tertipu," imbuhnya.
John Maule, seorang profesor di Leeds University menjelaskan sejumlah penelitian mendukung ide tersebut. "Orang-orang yang sedang dalam suasana hati negatif cenderung berpikir lebih mendalam dan lebih analitis, serta kurang mengandalkan intuisi," ucap Maule.
Karena itu menurutnya si pemurung yang uring-uringan lebih memungkinkan berpikir jernih di masa-masa sulit. Nah, jika kedua emosi itu dimanage dengan benar maka akan membantu manusia hidup lebih sehat.
Menurut dia pendapat bahwa 'kewajiban' tersenyum membuat seseorang bahagia, kenyataannya tidaklah seperti itu. Hal senada disampaikan psikolog Profesor Dieter Zapf. Dia menyebut ketika seseorang 'dipaksa' untuk ceria malah ada bahaya kesehatan yang mengintai.
Penelitian Profesor Zapf terhadap lebih dari 4.000 pekerja menemukan bahwa orang-orang yang bekerja sebagai pelayan toko mengalami peningkatan risiko depresi, tekanan darah tinggi dan masalah kardiovaskular. Hal itu muncul lantara mereka stres karena harus terus tersenyum saat bekerja.
Karena alasan ini, Professor Zapf dalam penelitiannya yang dilansir European Journal of Work and Organisational Psychology tahun 2004 merekomendasikan 'tukang senyum profesional' perlu diberi waktu istirahat. Di waktu itulah mereka bisa bebas uring-uringan sehingga merasa relaks.
Simon Moss, seorang dosen psikologi senior di Monash University, Australia, mengambil kesimpulan serupa. Mendorong optimisme seseorang adalah hal yang mudah. Namun kebanyakan manusia 'ditekan' agar sengaja membuat dirinya optimis sebagai bentuk kompromi dengan keadaan.
Tak jarang juga seseorang yang sedang mengidap penyakit serius 'dipaksa' tersenyum. Mereka 'didesak' untuk berpikir dan bertindak positif agar bisa mempercepat pemulihan. Tapi belum ada bukti ilmiah yang mendukung pernyataan tersebut.
American Cancer Society memperingatkan bahwa mendorong pasien untuk menjadi positif hanya menambah beban mereka. Alih-alih memberikan manfaat, hal itu malah membuat mereka semakin tertekan. Yang terpenting bukanlah membuat senyum sebagai topeng dari bad mood, tetapi perlunya keseimbangan antara perasaan positif dan negatif.
(vit/up) detik health

No comments:
Post a Comment